Tim Jetschool Academy · 21 September 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembentukan AI Force, pasukan khusus kecerdasan buatan, sekaligus berjanji segera menunjuk seorang AI Czar untuk mengawal industri yang berkembang sangat pesat. Pengumuman itu ia tulis di Truth Social pada Sabtu (19/9) waktu setempat.
Trump menegaskan pemerintahnya tidak akan menghambat pertumbuhan industri AI. Menurutnya, kekhawatiran soal bahaya kecerdasan buatan tidak lebih dari hoaks yang digaungkan oposisi.
"Kami sama sekali tidak akan menghalangi atau menghambat pertumbuhan industri luar biasa ini," tulis Trump. "Sebaliknya, kami akan menghargainya, membantunya, dan mengawasinya seiring perkembangannya."
AI Force digambarkan sebagai wadah pemerintah untuk mendukung sekaligus mengawasi industri AI. Trump membandingkan gagasan itu dengan Space Force, cabang militer luar angkasa yang dibentuknya pada masa jabatan pertama dan ia sebut keberhasilan besar.
Soal penyalahgunaan, ia menegaskan penindakan cukup dijalankan lewat sistem peradilan pidana dan perdata yang sudah ada. Namun Trump belum menjelaskan struktur, anggaran, maupun kewenangan AI Force. Kandidat AI Czar pun belum diumumkan, dan Gedung Putih belum memberi rincian tambahan.
Posisi itu sebenarnya bukan hal baru. Investor ventura David Sacks sempat menjabat sebagai AI dan crypto czar di awal era Trump kedua, sebelum meninggalkan posisi formal pada Maret 2026 karena habis masa jabatannya sebagai pegawai khusus pemerintah. Ia kini tetap menasihati presiden dari kursi ketua dewan penasihat kepresidenan bidang sains dan teknologi.
Pengumuman ini muncul di tengah memanasnya perdebatan keselamatan AI di AS. Seminggu sebelumnya, CEO Anthropic Dario Amodei mengusulkan industri berkoordinasi memperlambat pengembangan model AI mutakhir agar ada jeda menilai keamanannya. Usulan itu didukung CEO OpenAI Sam Altman, CEO SpaceX Elon Musk, hingga kepala Google DeepMind Demis Hassabis, namun Trump menolaknya.
Dalam unggahannya, Trump memasukkan "kehancuran atau pemusnahan AI" ke daftar panjang hal yang ia sebut hoaks karya oposisi, berderet dengan isu Rusia, Ukraina, dan pemanasan global. Menurutnya, gelombang penolakan awalnya menyasar pusat data, lalu meluntur setelah masyarakat sekitar merasakan manfaatnya, dan akhirnya beralih ke teknologi AI itu sendiri.
Trump menggambarkan AI sebagai Revolusi Industri atau internet berikutnya, bahkan lebih besar dan lebih berdampak. Ia mengklaim teknologi ini berpotensi menyumbang hingga 25 persen produk domestik bruto AS, dengan posisi AS unggul atas China dalam lomba membangunnya.
Gedung Putih menyiapkan pekan sibuk di seputar isu ini. Ada pertemuan tingkat tinggi bertema kecerdasan buatan di sela Sidang Umum PBB pada Rabu, disusul jamuan makan malam kenegaraan untuk menyambut kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington.
Sejumlah tokoh besar industri AI dilaporkan akan hadir dalam rangkaian itu, mulai dari Sam Altman, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga CEO Google Sundar Pichai. Keselamatan AI juga masuk agenda pembicaraan Trump dengan Xi, kata Gedung Putih.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program