Tim Jetschool Academy · 21 Juli 2026
Pada 26 April 2026, OpenAI resmi menutup Sora — platform text-to-video AI yang sempat menggemparkan dunia saat pertama kali diperkenalkan. Keputusan ini menandai berakhirnya salah satu proyek AI paling ambisius di bidang generasi video. Tapi bagaimana kisahnya dari awal hingga akhir?
Sora pertama kali diperkenalkan oleh OpenAI pada Februari 2024. Saat itu, demo-demo yang dirilis membuat banyak orang tercengang — video realistis yang dihasilkan hanya dari prompt teks, mulai dari SUV yang melaju di jalan pegunungan hingga animasi monster berbulu di samping lilin. Nama "Sora" sendiri diambil dari bahasa Jepang yang berarti "langit", melambangkan potensi kreatif tanpa batas. OpenAI membuka akses publik pertama untuk pengguna ChatGPT Plus dan ChatGPT Pro di Amerika Serikat dan Kanada pada Desember 2024.
Setahun kemudian, tepatnya September 2025, OpenAI merilis Sora generasi kedua. Sora 2 tidak hanya menghasilkan video — ia juga mengintegrasikan fitur media sosial langsung ke dalam aplikasi. Pengguna bisa berbagi, berinteraksi, dan membangun komunitas di dalam platform itu sendiri. Inovasi ini sempat disambut hangat, tetapi juga membawa tantangan baru. Salah satu isu yang paling menonjol adalah sistem "opt-out" untuk konten berhak cipta — secara default, Sora menggunakan materi berhak cipta dalam pembuatan video, dan pemilik konten harus secara aktif meminta untuk tidak diikutsertakan. Selain itu, watermark digital yang dipasang di setiap video ternyata bisa dihapus oleh program pihak ketiga hanya dalam waktu seminggu setelah rilis Sora 2.
Penutupan Sora di April 2026 mengejutkan banyak pengguna setia. Namun, ini bukanlah langkah yang sepenuhnya tanpa alasan. Persaingan di dunia text-to-video AI sangat ketat — Google Veo, Runway Gen-3, dan berbagai pemain lain terus bermunculan dengan kemampuan yang semakin canggih. Belum lagi tantangan regulasi dan hak cipta yang semakin kompleks di berbagai negara. Meskipun Sora resmi ditutup, API-nya masih direncanakan beroperasi hingga 24 September 2026, memberikan waktu bagi pengembang untuk migrasi ke platform lain.
Lalu apa pelajaran dari kisah Sora? Bahwa di dunia AI, bertahan tidak cukup hanya dengan teknologi yang canggih. Model bisnis, regulasi, dan ekosistem kompetitor semuanya berperan. Bagi para profesional dan pelaku bisnis di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat penting: jangan pernah menaruh seluruh strategi Anda pada satu platform AI. Diversifikasi alat dan terus perbarui pengetahuan tentang lanskap AI yang bergerak sangat cepat. Di Jetschool Academy, kami selalu mengajarkan prinsip ini — bahwa AI adalah alat, dan yang paling penting adalah cara kita memahaminya dan menggunakannya secara cerdas.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program