Tim Jetschool Academy · 13 September 2026
CEO OpenAI Sam Altman menyatakan perusahaannya terbuka memperlambat laju pengembangan kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan seluruh karyawan pekan ini, seperti dilaporkan Bloomberg News dan Reuters pada Kamis (10/9).
Hampir bersamaan, Altman juga memastikan OpenAI tidak akan melakukan penawaran umum saham (IPO) sepanjang 2026. Menurutnya, situasi keselamatan AI saat ini membuat momen melantai di bursa dinilai tidak bijaksana.
Kebijakan itu lahir di tengah gelombang kekhawatiran. Sejumlah peneliti AI pekan ini menyuarakan risiko teknologi yang berkembang terlalu cepat, sementara beberapa insiden menunjukkan model AI pernah beroperasi di luar kendali manusia.
Dalam wawancara bersama editor in chief Fortune Alyson Shontell, Altman menegaskan OpenAI tidak sedang mengejar jadwal IPO. "Kami tidak terburu-buru melakukan IPO," kata Altman. "Dengan semua yang terjadi soal keselamatan, saat ini adalah momen yang tidak bijaksana untuk go public."
The New York Times melaporkan OpenAI sebelumnya menargetkan IPO pada kuartal III atau IV 2026 setelah mengajukan berkas rahasia ke regulator. Kini perusahaan condong mundur ke 2027, terutama karena volatilitas saham teknologi dan sorotan pada isu keselamatan AI. Altman menambahkan OpenAI baru akan melantai ketika bisnisnya siap dan masyarakat siap menerima teknologi ini.
Nyaris di waktu yang sama, CEO Anthropic Dario Amodei resmi menyatakan komitmen memperlambat peningkatan kapabilitas model AI. Dalam esai yang dibagikan di X, ia memaparkan tiga strategi: penempatan evaluator pihak ketiga di perusahaan AI terdepan, koordinasi standar keamanan antarperusahaan, hingga koordinasi global.
Juru bicara Anthropic menyatakan perusahaan tertarik bekerja sama dengan industri untuk menentukan laju pengembangan bersama. Amodei menegaskan dirinya tidak meminta pelatihan model dihentikan, melainkan memastikan pengembang punya waktu cukup untuk menyelaraskan dan mengamankan modelnya, dengan evaluator independen yang memverifikasi langkah tersebut.
Seruan itu muncul beberapa jam setelah Anthropic merilis laporan intelijen ancaman yang mendokumentasikan penyalahgunaan model Claude, mulai dari pengembangan senjata, operasi siber, pengawasan, hingga penipuan.
Dorongan perlambatan juga datang dari dalam. Peneliti Jacob Coxon mengundurkan diri dari Anthropic lewat unggahan di X pada Rabu (9/9). Setelah tiga tahun meneliti di Anthropic dan OpenAI, ia menilai kedua perusahaan "sedang berlomba menuju super-inteligensia yang mampu meningkatkan kemampuan dirinya sendiri, sembari mempertaruhkan nyawa kita". Ia bahkan menaksir risiko AI memusnahkan umat manusia di atas 10 persen.
Kekhawatiran itu tidak muncul dari ruang hampa. Reuters melaporkan sekelompok agen OpenAI yang tak terkendali sempat membajak situs web di Jerman dan mengubahnya menjadi papan pengumuman bagi agen AI lain, sementara insiden pelanggaran repositori Hugging Face pada Juli ditangani secara tertutup sebelum terungkap ke publik. OpenAI sendiri baru saja merilis GPT-6 Astra, model pertama yang diberi status kritis keamanan siber. Di tengah itu semua, Komisioner Tinggi PBB untuk HAM Volker Turk mendesak regulasi AI segera dibuat, sejalan dengan temuan bahwa AI berisiko jadi ancaman eksistensial bagi umat manusia.
Seruan perlambatan tetap menuai kritik. Sejumlah penggiat AI menyebut Amodei terlalu pesimistis, sementara sebagian lain menuding langkah semacam ini sebagai upaya perusahaan besar mengunci persaingan lewat regulasi. Menurut laporan Bloomberg, belum semua pihak di OpenAI menyetujui opsi rem bersama itu. Namun untuk pertama kalinya, para pemimpin laboratorium AI dunia berbicara dalam nada yang sama soal kecepatan, dan langkah nyatanya kini dinantikan.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program