Tim Jetschool Academy · 19 Oktober 2026
Jakarta — OpenAI resmi melangkah ke dunia robotika. CEO Sam Altman memastikan perusahaan yang membesarkan ChatGPT itu sedang membangun robot humanoid, dengan target demo pertama di tahun 2027. Pernyataan itu ia sampaikan di podcast Sources awal September, yang kemudian dirangkum Engadget dan sejumlah media teknologi pada akhir pekan ini.
Ditanya apakah proyek hardware OpenAI berarti humanoid atau sekadar mesin data center, Altman menjawab singkat: "Keduanya." Ia menegaskan, "Kami pasti akan membuat humanoid. Kami juga akan membuat bentuk lain."
Menariknya, Altman justru tak terlalu peduli pada bentuk fisik robot itu. Menurutnya, tampilan tubuh "kurang penting dibanding benar-benar memecahkan otak yang membuat robot itu bekerja".
Argumennya praktis: dunia ini dirancang untuk manusia. Pintu, keyboard, dan peralatan sehari-hari dibuat mengikuti bentuk tubuh tertentu, jadi robot yang ingin beroperasi di ruang yang sama sebaiknya menyerupai bentuk itu. "Menyesuaikan bentuk itu sepertinya tepat," ujarnya.
Masalah sebenarnya ada di kecerdasan. Robot humanoid yang berguna harus memahami apa yang dilihat kamera dan sensornya, menafsirkan perintah, mengoordinasikan gerakan, lalu memperbaiki diri saat dunia nyata berbuat onar. Mengangkat secangkir kopi saja berarti mengenali mug, menemukan pegangannya, memperkirakan cengkeraman, dan memberi tenaga yang pas — kalau salah, kopi tumpah.
Altman memberi gambaran waktu ke Fortune: "Saya rasa kita akan punya demo yang keren di 2027. Saya tidak rasa ada robot berjalan di jalanan dalam beberapa tahun berikutnya." OpenAI belum menjelaskan apa yang akan ditunjukkan di demo itu, seperti apa wujud robotnya, atau kapan publik bisa melihatnya langsung.
Target jangka pendek yang disebut perusahaan adalah robot yang membantu pekerja terampil membangun infrastruktur, sementara robot personal menjadi tujuan jangka panjang.
Meski fokus pada otak, hardware tidak bisa dianggap remeh. Dari lowongan kerja robotika OpenAI, terlihat perusahaan sedang mengembangkan aktuator elektromekanis custom — motor, transmisi, sensor, dan sistem pendingin — ditambah posisi untuk manufaktur dan rantai pasok guna produksi massal.
OpenAI juga bukan pendatang baru di ranah ini. Proyek riset Dactyl mereka dulu melatih tangan robotik memanipulasi objek nyata sepenuhnya lewat simulasi, termasuk menyelesaikan Rubik's Cube — dan pelajarannya tetap sama: model bisa menguasai gerakan di software, tapi fisika punya keputusan akhir.
Langkah ini menempatkan OpenAI di arena yang mulai ramai. Tesla sudah bertahun-tahun menggarap Optimus, sementara startup seperti Figure dan Physical Intelligence menarik investasi besar untuk membangun fondasi model AI fisik. Dengan kantong model frontier dan mitra hardware-nya, OpenAI kini resmi masuk ke arena yang sama.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program