Tim Jetschool Academy · 29 Oktober 2026
OpenAI mengumumkan bahwa sistem kecerdasan buatannya mengklaim berhasil menembus tiga persoalan besar sains yang selama puluhan tahun mengganjal para ilmuwan: satu di matematika, satu di ilmu komputer, dan satu di fisika partikel. Pengumuman itu disampaikan Senin (27/10) lewat publikasi berjudul Working with Academic Communities to Build Scientific Understanding.
Ketiga hasil riset itu belum dinyatakan sebagai penemuan yang diterima komunitas ilmiah. OpenAI menggandeng sejumlah akademisi terkemuka, termasuk peraih Nobel, untuk memeriksa hasil pembuktian tersebut secara independen.
Temuan paling menonjol datang dari matematika. OpenAI mengklaim AI-nya berhasil membuktikan local smoothing conjecture, dugaan yang diajukan Christopher Sogge pada 1991 soal perilaku gelombang saat terfokus — sederhananya, bahwa pemfokusan gelombang paling ekstrem hanya berlangsung singkat.
Selama ini konjektur itu baru terbukti di dua dimensi spasial, itu pun baru pada 2019 oleh Larry Guth, Hong Wang, dan Ruixiang Zhang. Pembuktian di semua dimensi ini sekaligus menuntaskan dugaan Kakeya dan Stein's restriction conjecture. Hasilnya diperoleh 18 Oktober 2026 dan sehari setelahnya diformalkan lewat Lean, sistem komputer yang memeriksa langkah pembuktian matematika berdasarkan aturan logika.
Profesor matematika Brown University, Brendan Hassett, menilai klaim itu "tampak didukung dengan baik", meski ia menegaskan belum memeriksa formalisasi Lean-nya sendiri.
Di ilmu komputer, OpenAI mengklaim AI-nya berhasil membuktikan bahwa Exponential Time Hypothesis (ETH) salah. ETH adalah asumsi yang dipegang luas bahwa masalah komputasi tertentu tidak bisa diselesaikan jauh lebih cepat daripada pendekatan brute-force.
Masalahnya, ETH menjadi landasan ratusan makalah ilmiah di berbagai bidang, termasuk teori graf dan biologi komputasi. Kalau klaim ini terbukti, para peneliti harus meninjau ulang kesimpulan yang dibangun di atasnya. Temuan ini juga erat kaitannya dengan P versus NP, salah satu Millennium Prize Problems yang belum terpecahkan.
Adapun hasil di bidang fisika, yang mengeksplorasi Standard Model dan quantum chromodynamics terkait teori Yang-Mills, belum dirilis sama sekali. OpenAI menyerahkan ke kelompok pakar eksternal untuk menentukan cara publikasinya.
Di balik antusiasme — sejumlah peneliti menyebut hasilnya "huge" dan "major breakthroughs" — ada kritik yang mengemuka. Beberapa peneliti yang berbicara kepada The Verge mengaku kian lelah dengan cara OpenAI mengumumkan hasil kerjanya, karena perusahaan memilih sendiri pakar pengawas atau "shepherd" untuk tiap temuan.
Jaringan advokasi AGMAI bahkan mendesak OpenAI merilis seluruh hasil secara terbuka tanpa penundaan. Kritik ini muncul setelah awal Oktober lalu ratusan pracetak hasil AI disebut "dilempar" begitu saja ke komunitas matematikawan tanpa proses yang jelas.
Sepanjang strategi rilis barunya, OpenAI berbeda pendekatan tiap bidang: keluaran matematika dilepas agar peneliti bebas mengorganisasi upaya verifikasi sendiri, temuan ilmu komputer akan dijelaskan oleh kelompok peneliti eksternal yang dihimpun OpenAI, dan fisika masih ditahan menunggu kesepakatan para pakar.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program