Tim Jetschool Academy · 7 September 2026
OpenAI mengumumkan, Minggu (6/9), bahwa target internal yang dijanjikan sejak musim gugur 2025 telah tercapai: perusahaan kini memiliki "intern riset otomatis" (automated research intern) tepat pada September 2026. Pengumuman itu disampaikan lewat tulisan blog berjudul Research acceleration: The view inside OpenAI.
Yang menarik bukan cuma capaiannya, tapi angka pemakaian di baliknya. Menurut pengukuran internal, organisasi riset OpenAI sekarang menggunakan 3,1 hari kerja agen AI untuk setiap satu hari kerja peneliti manusia. Biayanya juga tidak main-main: peneliti median membakar biaya inferensi lebih dari 600 dollar AS per hari.
"Menurut pengukuran kami, kami kini telah mencapai target yang diumumkan musim gugur lalu, yaitu memiliki intern riset otomatis pada September tahun ini."
-- OpenAI dalam blog resminya
Yang dimaksud "intern riset" di sini adalah sistem yang mampu mengerjakan tugas riset yang terdefinisi dengan baik di bawah arahan manusia, termasuk pekerjaan yang butuh waktu beberapa hari jika dikerjakan peneliti terampil. Milestone ini awalnya ditetapkan Sam Altman lewat siaran langsung pada Oktober 2025.
Kategori pekerjaan terbesar yang dijalankan agen adalah menulis kode riset dan kode infrastruktur. OpenAI mengelompokkan pekerjaan riset memakai taksonomi dari firma riset Epoch AI: menentukan apa yang dikerjakan, merancang eksperimen, membangun kode dan dataset, menjalankan eksperimen, menganalisis hasil, hingga mengomunikasikan temuan.
Pola pemakaiannya ikut bergeser. Sejak awal 2026, agen makin banyak dipakai untuk troubleshooting teknis dan memantau eksperimen yang berjalan. Kanal internal yang dulu dipakai peneliti untuk minta bantuan debugging ikut melorot. Satu tim bahkan berhenti mengadakan sesi "office hours" untuk topik itu, dengan alasan sebagian besar sudah diserap agen.
Jumlah peneliti yang menjalankan empat sesi agen atau lebih secara bersamaan juga bertambah dibanding awal tahun. Meski begitu, OpenAI menegaskan perencanaan tingkat tinggi dan keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.
Awal 2026, peneliti tipikal di OpenAI masih tergolong pengguna ringan untuk agen coding. Pertengahan Agustus, pemandangannya berubah drastis: peneliti median menjalankan inferensi lebih dari 600 dollar AS per hari dengan harga API, sementara 10 persen pengguna teratas mengeluarkan di atas 7.000 dollar AS per hari.
Agustus 2026 sendiri mencatat rekor jumlah eksperimen per peneliti aktif, tertinggi sejak pencatatan dimulai Januari 2025. Percepatan ini nyaris sejalan dengan rilis model terbaru perusahaan itu, GPT-6 Astra, yang awal bulan lalu langsung digadang-gadang sebagai lompatan besar.
Milestone berikutnya sudah ditunggu: sebuah "automated AI researcher" yang lebih mampu pada Maret 2028. Bila intern riset masih bekerja di bawah arahan manusia, peneliti otomatis penuh nantinya diharapkan mampu merancang dan mengeksekusi agenda risetnya sendiri.
OpenAI juga membuka soal rekursi: perusahaan mengakui dinamika recursive self-improvement, yakni AI yang mempercepat pengembangan AI berikutnya, sambil menekankan keselamatan dan transparansi. Dalam praktiknya, OpenAI mengaku pernah menjeda pelatihan reinforcement learning karena kendala infrastruktur, bukti bahwa jalan menuju 2028 tidak sepenuhnya mulus.
Bagi dunia riset, angka 3,1 itu adalah sinyal paling konkret sejauh ini bahwa struktur kerja laboratorium AI sedang ditulis ulang. Pertanyaannya bukan lagi apakah agen AI ikut meriset, melainkan seberapa cepat pola kerja itu menular ke industri di luar OpenAI.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program