Tim Jetschool Academy · 13 Oktober 2026
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi motor utama yang menjaga pertumbuhan ekonomi global tetap bertahan di kisaran 3 persen pada 2026. Namun di balik angka itu, IMF memperkirakan hingga 40 persen jenis pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak gelombang AI.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada pembukaan Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Senin (12/10/2026), yang dihadiri sekitar 18.000 peserta dari 191 negara anggota. Ia mengibaratkan perkembangan AI sebagai "tsunami yang bergerak lambat" yang siap mengubah lanskap pekerjaan secara masif.
Menurut Georgieva, jor-joran perusahaan teknologi membangun infrastruktur AI memberi efek kejut positif bagi ekonomi dunia. Investasi ini menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan tetap stabil di sekitar 3 persen, di tengah pelemahan di sektor lain.
Manfaat terbesar jatuh ke Asia. IMF memperkirakan investasi AI mendongkrak pertumbuhan negara maju Asia sebesar 0,5 hingga 1 poin persentase, dan 0,2 hingga 0,8 poin persentase bagi negara berkembang di kawasan itu. Thailand sendiri disebut menikmati angin baik sebagai pemasok utama perangkat keras penunjang AI.
Kendati menopang ekonomi, Georgieva memperingatkan sisi gelapnya. Sekitar 40 persen pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak AI, dengan tiga skenario: peningkatan keahlian (upskilling), penurunan peran, hingga penghapusan jenis pekerjaan tertentu.
Pekerjaan rutin dan repetitif diprediksi makin menyusut. Sebaliknya, permintaan tenaga kerja di sektor berupah rendah seperti konstruksi dan pusat data justru meledak karena pembangunan infrastruktur AI yang marak.
Kajian awal IMF juga menunjukkan sekitar 10 persen pekerjaan di Amerika Serikat kini sudah menuntut keahlian AI — angka yang diperkirakan terus naik.
Georgieva menyoroti konsekuensi jangka panjang yang lebih dalam: pergeseran aktivitas ekonomi dari tenaga kerja manusia (labor) ke modal (capital). Ini berpotensi merombak pasar kerja, sistem pendidikan, hingga penerimaan pajak negara.
"Suka atau tidak suka, AI sudah ada di depan kita," ujar Georgieva, seperti dilaporkan Reuters.
Bagi Indonesia, gelombang ini bukan skenario jauh. Pemerintah sendiri baru-baru ini menegaskan posisi serupa bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti pegawai. Yang jelas, kesiapan keterampilan menjadi penentu: mereka yang menguasai AI berpeluang naik kelas, sementara yang mengabaikannya berisiko tertinggal saat tsunami lambat itu benar-benar tiba.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program