Tim Jetschool Academy · 9 Oktober 2026
Google resmi membuka SynthID Detector ke publik global pada 7 Oktober 2026. Kini siapa pun bisa memeriksa apakah sebuah gambar, video, atau audio dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), cukup dengan mengunggah file ke situs synthid.com.
Alat ini bekerja dengan memindai watermark digital tak terlihat yang disematkan di dalam konten. Tahap awal, SynthID Detector tersedia dalam bahasa Inggris dan mampu mendeteksi konten yang dibuat dengan alat AI dari Google, OpenAI, Nvidia, hingga Kakao. Google juga menyebut kemampuan deteksi untuk alat AI dari Apple akan segera menyusul.
Sejak pertama diperkenalkan pada 2023, Google mengaku telah menyematkan watermark SynthID pada lebih dari 180 miliar gambar dan video, serta sekitar 240.000 tahun durasi konten audio. Angka itu melonjak tajam dibanding Mei 2025, ketika baru sekitar 10 miliar konten yang berpenanda.
Google menegaskan SynthID Detector bukan alat pendeteksi AI umum. Alat ini hanya bisa mengenali media yang dibuat oleh sistem yang memang mendukung teknologi SynthID. Jika sebuah konten tidak memiliki penanda yang kompatibel, alat ini tidak bisa memastikan apakah konten itu buatan AI atau tidak.
SynthID juga tidak mengungkap informasi lain seperti identitas pembuat, nama alat yang dipakai, riwayat penyuntingan, atau waktu pembuatan. Para peneliti, perusahaan AI, dan pembuat regulasi sendiri sepakat bahwa teknologi watermark belum sepenuhnya andal.
Versi awal SynthID Detector sebenarnya sudah tersedia sejak 2025, tapi terbatas untuk sejumlah profesional media. Kini aksesnya dibuka luas dan terintegrasi dengan fitur verifikasi lain di Search, aplikasi Gemini, serta Chrome.
Peluncuran ini bertepatan dengan langkah serupa dari pesaing. Awal pekan ini OpenAI mulai menerapkan watermark pada teks ChatGPT di Uni Eropa, sementara Anthropic berjanji melakukan hal yang sama untuk model barunya di kawasan tersebut.
Text watermarking and detection remain early technologies with significant limitations.
-- OpenAI
OpenAI mengakui keterbatasan itu dengan data konkret: tingkat deteksi teks AI yang belum diedit mendekati 100 persen, tapi anjlok ke di bawah 20 persen ketika seperempat kata diubah oleh manusia.
Meski ada keterbatasan, kehadiran SynthID Detector menjadi tonggak penting di tengah membanjirnya konten sintetis. Masyarakat kini punya cara resmi dan gratis untuk menelusuri asal-usul sebuah gambar, video, atau audio sebelum membagikannya.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program