Tim Jetschool Academy · 8 September 2026
Lonjakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) ternyata melahirkan jenis pekerjaan baru yang tak terduga: membersihkan hasil kerja AI yang berantakan. Para freelancer menyebutnya AI cleanup, dan permintaannya kini melonjak tajam.
Dari desainer grafis, penyunting video, proofreader, sampai penulis konten, mereka dilaporkan kebanjiran pesanan untuk memperbaiki "sampah AI"—istilah untuk output generatif yang belum layak digunakan. Bentuknya beragam: gambar buram dan cacat, tulisan kaku yang berulang-ulang, hingga video dengan animasi dan suara tidak sempurna.
Data internal Freelancer.com yang dibagikan kepada The Guardian menunjukkan lowongan dengan kata kunci "correct AI", "AI hallucination", dan "AI error" naik 87 persen, menjadi 10.760 lowongan global dalam periode Agustus 2025 sampai Juni 2026. Porsi terbesar ada di desain grafis, disusul penyuntingan video, proofreading, dan penulisan konten.
Platform sejenis mencatat tren serupa. Upwork melaporkan pekerjaan perbaikan hasil AI naik 70 persen dari tahun ke tahun, sementara pencarian kata kunci "AI cleanup" di Fiverr membengkak lebih dari 20 kali lipat antara 2023 dan 2026.
Pesanan ini umumnya datang dari usaha kecil dan wirausaha yang memakai AI untuk draf pertama, lalu menabrak masalah yang tak bisa mereka selesaikan sendiri. CEO Freelancer.com Matt Barrie mengatakan output AI tetap membutuhkan sentuhan manusia agar benar-benar bisa dipakai.
"Butuh manusia untuk mengubahnya jadi sesuatu yang rapi dan benar-benar bisa digunakan," ujar Barrie. Menurutnya, penghematan waktu dan biaya di tahap draf sering habis oleh proses penyiapan yang sangat makan waktu sebelum hasilnya layak dipakai komersial.
Lisa, desainer grafis lepas di Spanyol, merasakan pergeseran ini sejak ChatGPT dirilis pada 2022. Pesanan pembuatan logo dan desain kemasan berubah menjadi permintaan perbaikan desain buatan AI. Pada 2025, hampir 90 persen permintaan yang masuk kepadanya berupa perbaikan hasil AI, menyerap 60 sampai 70 persen pendapatan tahunannya.
Ia mulai lelah karena sejumlah klien menawar dengan harga murah, padahal banyak desain rusak parah dan harus dibuat ulang dari nol. Ia juga khawatir terseret masalah hak cipta. Menjelang akhir 2025, Lisa memilih menolak pekerjaan semacam itu dan kembali fokus pada desain buatan manusia.
Nasib serupa dialami Todd Van Linda, ilustrator lepas di Florida, AS. Ia menolak tawaran sekitar 500 dolar AS untuk memperbaiki 13-15 ilustrasi AI sebuah buku anak karena klien menyangka tiap gambar cukup 15 menit. Padahal tarifnya 65 dolar AS per jam dan satu proyek bisa makan waktu berjam-jam sampai berhari-hari: menyaring noise visual, menaikkan resolusi, sampai berburu kejanggalan seperti jari kaki ekstra.
Kym Dunbar, penulis dan editor lepas di Australia, mencatat pekerjaan pembersihan AI kini menguasai sekitar 60 persen beban kerjanya, sementara proyek penulisan lazim makin sulit dicari.
Di balik lonjakan itu, pasar kerja kreatif sebenarnya menyusut. Studi di jurnal Management Science mencatat lowongan lepas yang terpapar otomatisasi turun 21 persen dalam delapan bulan setelah ChatGPT diluncurkan, dan pekerjaan pembuatan gambar anjlok 17 persen setelah generator gambar AI hadir.
Persaingan pun makin ketat. Rata-rata satu proyek di Freelancer.com menarik 54 penawaran pada 2025, naik 8 persen dari tahun sebelumnya, karena lebih banyak pekerja beralih ke freelance saat perusahaan memangkas karyawan tetap.
Para freelancer sendiri sadar permintaan ini tak selamanya ada. Ketika model AI makin pintar dan outputnya makin rapi, jasa membersihkan "sampah"nya bisa ikut mengering—dan pertanyaannya kemudian, ke mana mereka akan berpindah setelah itu.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program