Tim Jetschool Academy · 20 September 2026
Anthropic mengonfirmasi telah membangun laboratorium biologi nyata di kawasan Teluk San Francisco, AS — tempat model kecerdasan artifisial (AI) Claude dipersiapkan mengendalikan robot untuk menjalankan eksperimen ilmiah sungguhan. Konfirmasi itu disampaikan pejabat perusahaan kepada Reuters, Jumat (18/9).
Lab jenis wet lab ini menandai langkah Anthropic keluar dari simulasi di dalam komputer menuju meja eksperimen sungguhan — wilayah yang selama ini identik dengan perusahaan farmasi dan bioteknologi.

Eric Kauderer-Abrams, Kepala Ilmu Kehidupan Anthropic, membenarkan lab itu sudah berjalan. Fasilitas dibangun senyap sepanjang beberapa bulan terakhir, dan perusahaan tengah mengukur seberapa jauh pekerjaan fisik di laboratorium bisa diotomatisasi.
Rencananya, Claude akan mengarahkan peralatan robotik menjalankan eksperimen dengan campur tangan manusia seminimal mungkin — menyusun instruksi, mengoperasikan alat, membaca hasil, lalu memutuskan langkah berikutnya. Juru bicara Anthropic menegaskan pengawasan manusia tetap diperlukan demi keamanan.
“We believe that to do biology, the final test is still and will be for a while in real lab work,” ujar Kauderer-Abrams. Ia menambahkan pendekatan Anthropic serupa perusahaan bioteknologi pada umumnya: sebagian pekerjaan di fasilitas sendiri, sebagian lagi bersama mitra eksternal.
“We're in the very early innings of using AI to automate the execution of lab work,” lanjutnya, menyebut bidang ini berpotensi mempercepat banyak proses ilmiah sekaligus. Untuk mendukung itu, Anthropic juga mengembangkan alat yang membantu sistem AI berinteraksi dengan peralatan laboratorium.
Lab ini adalah kelanjutan fisik dari Claude Science, platform riset yang diluncurkan Anthropic pada 30 Juni 2026 untuk mengerakkan biologi dan penemuan obat memakai model Claude.
Sasaran besarnya: penyakit langka dan sulit disembuhkan yang kerap dilewatkan perusahaan farmasi besar karena jalur risetnya dinilai kurang menjanjikan secara komersial. Fokus Anthropic masih di tahap praklinis.
Menariknya, juru bicara Anthropic menyebut lab itu bukan khusus untuk penemuan obat — riset biologi lain juga akan dijalankan. Untuk CEO Dario Amodei, urusan ini terasa pribadi: dalam sebuah esai, ia menulis bahwa ayahnya meninggal karena penyakit yang obanya baru ditemukan tak lama setelahnya, menurut laporan Reuters.
Keberhasilan memang belum bisa dijamin. Reuters mengingat mayoritas obat baru justru gugur di uji keamanan dan efektivitas — risiko yang sama melekat pada langkah Anthropic.
Modal kepercayaannya ada di angka. Eksperimen yang dipublikasikan Agustus menunjukkan model Claude mampu mendesain protein binder — molekul yang menempel pada protein sasaran penyakit — terhadap 15 target dengan hit rate 22-35%. Bandingkan dengan benchmark industri yang umumnya hanya 10-15%.
Uji terhadap model terbaru Anthropic mencatat hasil lebih tinggi lagi: 12 kandidat molekul dengan hit rate 50%.
Anthropic menegaskan dirinya tidak bersaing dengan perusahaan farmasi maupun bioteknologi — sinyal bahwa temuan di lab ini lebih mungkin dilisensikan ke industri, bukan dikomersialkan sendiri.
Langkah ini diambil di saat kekhawatiran soal risiko AI tengah memuncak. Anthropic sendiri pernah melaporkan kondisi ketika sistemnya berpotensi disalahgunakan untuk pengembangan senjata biologis — salah satu alasan pengawasan manusia terus ditekankan di lab ini.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program