Tim Jetschool Academy · 18 Oktober 2026
Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahaya ketergantungan anak pada kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, penggunaan AI tanpa pendampingan berisiko membuat anak kurang mandiri dan kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Peringatan itu disampaikan dalam kegiatan bersama WhatsApp, Sabtu (17/10), seperti dilansir sejumlah media nasional. Nezar menilai AI bisa memberi manfaat untuk belajar dan kreativitas anak, tetapi hanya jika pemakaiannya dibatasi dan didampingi.
Nezar menyebut sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh di tengah lingkungan digital yang semakin kompleks. Kondisi ini menuntut keterlibatan aktif orang tua agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence.
-- Wamenkomdigi Nezar Patria
Ia menambahkan penggunaan AI tanpa batasan berpotensi menimbulkan ketergantungan, apabila anak selalu mengandalkan sistem digital untuk menjawab persoalan atau menyelesaikan tugas. Orang tua dinilai perlu memahami aktivitas digital anak, membangun komunikasi terbuka, dan memberikan arahan penggunaan teknologi.
Selain AI, ancaman lain yang perlu diwaspadai mencakup interaksi dengan orang asing, konten yang tidak sesuai usia, penyalahgunaan data pribadi, hingga kecanduan perangkat digital. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) sebagai landasan ruang digital yang lebih aman bagi anak.
Isu perlindungan anak di era digital juga dibawa Indonesia ke forum global. Pada Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Jumat (16/10), Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO IGAK Satrya Wibawa menegaskan dukungan Indonesia terhadap pedoman penggunaan perangkat digital dan AI untuk anak serta generasi muda.
Indonesia bersama sejumlah negara mendukung proposal Pakistan bertajuk UNESCO Guidelines on the Use of Digital Devices by Children and Young Adults, yang akan mendorong kajian internasional mendalam soal dampak ponsel pintar dan tablet terhadap literasi, numerasi, rentang perhatian, dan perkembangan kognitif anak.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah anak boleh menggunakan perangkat digital, melainkan kapan, untuk tujuan apa, dan pada tahap perkembangan mana teknologi memberikan manfaat pendidikan yang optimal.
-- IGAK Satrya Wibawa, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO
Satrya menegaskan kebijakan harus dibangun berdasarkan bukti ilmiah, bukan semata kekhawatiran terhadap teknologi. UNESCO sendiri menekankan posisi teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti interaksi manusia dalam proses pendidikan.
Dalam kegiatan yang sama, WhatsApp memperkenalkan fitur Parental Control untuk membantu orang tua mendampingi aktivitas digital anak remaja. Fitur ini memungkinkan orang tua melihat informasi grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak, mengatur konten yang bisa dilihat dan dibagikan, serta menerima notifikasi perubahan tertentu pada akun.
Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp, Victoria Grant, menjelaskan fitur itu dirancang untuk mendukung keselamatan anak tanpa memberi orang tua akses membaca percakapan pribadi anak.
Nezar menutup dengan penekanan bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kerja sama pemerintah, penyedia platform, dan keluarga. Keamanan digital, katanya, bukan hanya persoalan teknologi, melainkan tanggung jawab bersama mempersiapkan generasi mendatang.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program