Tim Jetschool Academy · 31 Agustus 2026
Sekitar 55 persen perusahaan mengaku menyesal telah memberhentikan karyawannya demi beralih ke kecerdasan buatan (AI). Temuan itu dirilis firma riset Forrester Research dan dilansir media teknologi The Next Web, Senin (31/8).
Lebih menarik lagi, Forrester memperkirakan separuh dari seluruh PHK yang berlabel AI akan dibatalkan secara diam-diam. Perusahaan merekrut kembali orang-orang yang sebelumnya dilepas.
Tren itu bukan sekadar teori. Ford, misalnya, mengakui terlalu mengandalkan AI dalam pengembangan kendaraan dan akhirnya merekrut kembali lebih dari 350 engineer — sebagian adalah mantan karyawannya sendiri.
Klarna pernah memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 dan mengganti 700 petugas customer service dengan chatbot. Chatbot itu memang memangkas waktu layanan dari 11 menit menjadi dua menit dan menghemat 2 juta dolar AS (sekitar Rp 32,7 miliar).
Meski begitu, CEO Klarna Sebastian Siemiatkowski mengakui perusahaannya kebablasan memakai AI. Kini Klarna membuka puluhan posisi baru dengan fokus produktivitas dan pengalaman pelanggan.
IBM jalan di jalur serupa. Setelah memangkas ribuan karyawan, perusahaan itu berencana melipatgandakan rekrutmen posisi entry-level hingga tiga kali lipat pada 2026.
Ada catatan pahit dari laporan Forrester. Pekerjaan yang kembali itu sering dialihkan ke luar negeri (offshore) atau ditawarkan dengan upah yang jauh lebih rendah. Koreksinya justru menanggung beban ke pekerja, bukan ke perusahaan.
Kekhawatiran publik juga belum mereda. Survei Reuters/Ipsos menemukan 53 persen warga AS khawatir AI akan menghilangkan pekerjaan di rumah tangganya.
Praktisi SDM pun menyinggung kesenjangan itu. Analis Gartner Jackie Swanson menulis, "Setiap organisasi punya peta jalan adopsi AI. Hampir tidak ada yang punya rencana jujur soal apa yang AI lakukan terhadap orang-orangnya."
Kasus di atas menunjukkan pola yang sama: AI efektif memangkas biaya di kertas, tapi kualitas layanan dan produktivitas tidak selalu ikut naik. PHK besar-besaran demi AI lebih sering berujung penyesalan bila dilakukan tanpa uji coba bertahap.
Pendekatan perusahaan yang selamat justru sebaliknya. "Kami tidak memulai dari mandat AI top-down," ujar Chief People Officer Superhuman Kenny Mendes. Tim yang paling dekat dengan masalah memilih sendiri alat yang mereka pakai.
Bagi pemilik usaha, pesannya sederhana: posisikan AI sebagai alat bantu yang menambah kapasitas tim, bukan pengganti langsung. Mulai dari satu proses, ukur hasilnya, baru perluas — seperti yang dibahas di artikel Agent AI untuk otomatisasi bisnis.
Jelajahi program pelatihan bersertifikat dari Jetschool Academy.
Lihat Semua Program